Ilmu pengetahuan semakin banyak belajar tentang keluwesan bentuk pada dinosaurus dengan setiap penemuan besar di China, Amerika, Antartika, dan tempat lainnya. Termasuk, soal bulunya.
Selama masa kejayaan mereka pada periode Trias, Jura, dan Kretaseus, dinosaurus berevolusi untuk mengisi berbagai peran di berbagai ekosistem.
Beberapa berukuran besar, kecil, ada yang berjalan di darat, ada yang bersifat amfibi, dan bahkan ada dinosaurus yang memiliki kemampuan terbang.
Salah satu perkembangan paling mengejutkan dalam paleontologi dalam beberapa tahun terakhir adalah penemuan bahwa banyak dinosaurus yang memiliki bulu.
Jika dibedah pada struktur bulu burung masa kini, terdiri dari batang tengah (rachis) dengan cabang berpasangan secara berurutan (barbs) yang membentuk permukaan datar dan biasanya melengkung disebut vane.
Barbs bercabang menjadi barbules, dan barbules dari barbs yang berdekatan saling terhubung oleh kait, yang menguatkan vane.
Pada banyak burung, beberapa atau seluruh bulu tidak memiliki barbules atau kait, sehingga bulu tersebut memiliki penampilan seperti rambut yang longgar.
Pendahulu bulu pada burung adalah struktur sederhana, lurus, padat, berfilamen, yang terbuat sebagian besar dari keratin.
Lambat laun, struktur ini berevolusi menjadi bentuk bercabang, kemudian menjadi bulu lembut (downy), dalam beberapa bentuk berbatang yang kemudian menghilang.
Seiring berjalannya waktu, kondisi bercabang ini berubah menjadi batang tengah dengan vane di kedua sisinya, dan vane ini kemudian berevolusi menjadi barbs.
Pada 2011, beberapa penelitian bahkan menyiratkan bahwa semua dinosaurus memiliki jenis penutup bulu di setidaknya beberapa bagian tubuh mereka.
Meskipun dinosaurus pertama diperkirakan muncul sekitar 245 juta tahun yang lalu, dinosaurus dengan bulu telah dihitung berusia hanya 180 juta tahun yang lalu.
Temuan ini telah mengubah pemahaman tentang dinosaurus, mengungkapkan bahwa banyak di antara mereka memiliki beberapa bentuk penutup bulu di tubuh mereka, meskipun tidak semua.
Artikel ini ditulis berdasarkan sumber Britannica dengan judul: Did Dinosaurs Really Have Feathers?