Pernahkah Anda terpikir, kenapa daging cincang kalengan dinamakan corned beef atau kornet?
Padahal tak ada jagung (corn) di bahan pembuatannya.
Yuk, cari tahu alasan di balik penamaan ini!
Menurut Oxford English Dictionary, sejak abad ke-9, kata corn digunakan untuk menyebut "partikel kecil dan keras" dari zat-zat berbutir seperti pasir atau garam.
Dilansir MentalFloss (6/3/2023), cara mengawetkan daging atau makanan lain dengan garam disebut sebagai "corning".
Proses ini melibatkan perendaman dengan larutan garam dan rempah-rempah.
Dilansir Healthline (23/2/2021), daging sapi yang biasa digunakan untuk corned beef adalah brisket, yaitu bagian dada bawah sapi.
Daging harus direndam dalam larutan garam atau bumbu agar lunak.
Larutan garam atau bumbu untuk membuat corned beef biasanya juga mengandung gula dan rempah-rempah.
Setelah melalui perendaman, daging direbus dalam waktu lama sampai empuk.
Menurut keterangan di Encyclopedia of Meat Sciences (2014), cara membuat corned beef sekarang ini adalah dengan menyuntikkan larutan garam dan bumbu-bumbu ke dalam daging sapi.
Jika menggunakan dada sapi tanpa tulang, biasanya daging disuntik hingga beratnya bertambah 120% dari berat aslinya.
Jika menggunakan paha sapi yang lebih rendah lemak, daging hanya disuntik hingga bertambah 110%.
Setelah disuntik, daging dimasukkan ke dalam larutan garam dan bumbu-bumbu tambahan selama beberapa hari.
Corned beef dijual di pasaran dalam kondisi mentah dan matang.
Jika sudah matang, corned beef direbus atau dikukus hingga suhu dalamnya mencapai 67°--72°C.
Kata corn digunakan untuk menyebut butiran seperti garam.